Selasa, 14 September 2010

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dan Motivasi Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas X AP I di SMK Swasta Bersama Berastagi Tahun Pembelajaran 2010/2011”.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tujuan pendidikan nasional yang sebagian besar adalah tanggung jawab profesional setiap guru. Pengembangan kualitas manusia ini merupakan suatu keharusan dalam era globalisasi dewasa ini. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan sebagai sarana dalam pencerdasan manusia tersebut. Pendidikan merupakan proses yang sangat menentukan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu mulai dari penyajian kurikulum yang tepat, pengadaan sarana prasarana pendidikan dan juga pengadaan guru yang berkualitas. Pendidik dalam hal ini guru sangat dituntut sebagai agen pembelajaran yang mampu berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu dan pemberi inspirasi belajar bagi siswa dan guru diyakini sebagai salah satu faktor dominan yang menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai hasil proses pembelajaran.
Masalah yang berkaitan dengan guru dalam proses pembelajaran biasanya berkesan pada persoalan kurang memadainya kualifikasi dan kemampuan guru, rendahnya komitmen guru, rendahnya motivasi dan kinerja guru, tidak tepatnya metode yang digunakan dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan tidak cocoknya teknik yang digunakan guru dalam meningkatkan motivasi siswa serta kurangnya persiapan guru dalam mengajar dan masalah yang berkaitan dengan siswa dalam proses pembelajaran berkesan pada persoalan rendahnya hasrat dan minat belajar, kurang memadainya fasilitas belajar, dan kurangnya motivasi dan dorongan siswa tersebut dalam belajar.
Seseorang yang kurang memiliki motivasi dalam belajar, maka hasil belajarnya tidak akan mencapai sasaran dan tidak terarah dalam pelaksanaannya, apabila seseorang belajar tanpa adanya dorongan yang menggerakkan atau mengarahkan maka situasi belajar tidak menggairahkan bahkan akan lebih cepat mengalami kelelahan atau kebosanan.
Motivasi dalam belajar dapat berasal dari dalam diri sendiri (motivasi intrinsik) motivasi berasal dari diri seseorang itu sendiri tanpa dirangsang dari luar, dan motivasi yang berasal dari luar (ekstinsik). Intensitas motivasi seseorang peserta didik akan menentukan tingkat pencapaian hasil belajarnya.
Lhany (8 maret 2009) menyatakan “bahwa kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran’’. Hal tesebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya yang menjadi permasalahan khusus dalam dunia pendidikan adalah : 1) Rendahnya kualitas guru, 2) Rendahnya hasil belajar siswa, 3) Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan.
Dalam pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa hasil belajar siswa masih kurang memuaskan, dengan kata lain hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini dikarenakan dalam proses pembelajaran terkadang guru hanya memikirkan bagaimana proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik, namun kurang memperhatikan aktivitas siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini terlihat dari penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi sehingga menimbulkan kejenuhan pada siswa karena dalam proses pembelajaran masih cenderung didominasi oleh guru dan didalam kelas siswa terlihat pasif atau hanya sebagai pendengar.
Hasil observasi langsung di SMK Swasta Bersama Berastagi, khususnya untuk mata pelajaran kewirausahaan hasil data diperoleh bahwa dari 43 orang siswa kelas X AP 1 yang diharapkan mencapai Kiteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan disekolah yakni seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar jika hasil belajar siswa telah mencapai skor 70 atau 7,00 dan suatu kelas dikatakan tuntas terhadap suatu materi pelajaran jika skor rata-rata kelas 70% Ternyata siswa yang mencapai nilai 70 (terlampir) atau yang mampu mencapai kriteria ketuntasan hanya sekitar 44% siswa. Hal ini disebabkan karena guru terbiasa dengan menggunakan model konvensional seperti ceramah, tanya jawab, dan latihan atau pemberian tugas. Dimana proses pembelajaran lebih terfokus pada guru, dan kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
Rendahnya hasil belajar menunjukkan bahwa masih rendahnya mutu pembelajaran, hal ini dapat diartikan bahwa kurang efektifnya proses pembelajaran. Pola mengajar guru yang belum memuaskan atau masih monoton sehingga siswa bosan, penerapan metode yang belum sesuai dengan materi dan juga sarana prasarana yang kurang memadai, serta motivasi belajar yang masih rendah
Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu diperbaiki model pembelajaran yang dapat mengaktifkan dan meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar kewirausahaan siswa tersebut penulis berencana menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe marry go round (keliling kelompok). Dimana model ini merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centre), yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan cara membentuk grup yang ideal, memberikan pertanyaan yang menantang dan terbuka, menyepakati rentang waktu, serta bersama-sama melaksanakan diskusi kelas. Dan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Marry go round diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan kreativitasnya dalam proses pembelajaran dimana siswa dapat mengembangkan daya pikirnya selain itu dapat juga membiasakan siswa untuk bersaing dan bertukar pikiran mempertanggungjawabkan hasil pekerjaaan yang diberikan.
Berdasarkan uraian diatas, permasalahan tersebut menarik untuk diteliti dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dan Motivasi Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas X AP I di SMK Swasta Bersama Berastagi Tahun Pembelajaran 2010/2011”.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka identifikasi masalah adalah:
1. Apakah yang menyebabkan motivasi belajar dan hasil belajar kewirausahaan siswa rendah?
2. Apakah proses pembelajaran yang sebelumnya kurang meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa?
3. Apakah yang menyebabkan siswa bosan dan malas belajar kewirausahaan?
4. Apakah penerapan model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar kewirausahaan siswa?

1.3 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah dengan menerapkan model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round dapat meningkatkan hasil belajar kewirausahaan siswa kelas X AP I SMK Swasta Bersama Berastagi
2. Apakah dengan menerapkan model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round dapat meningkatkan motivasi belajar kewirausahaan siswa kelas X AP I SMK Swasta Bersama Berastagi

1.4 Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah yang meliputi:
1. Model pembelajaran yang diterapkan selama KBM adalah Model Pembelajaran Koperatif Tipe Maryy GO Round.
2. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah materi pokok langkah-langkah membuka kewirausahaan.
3. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X AP I SMK Swasta Bersama Berastagi

1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar kewirausahaan siswa kelas X AP I SMK Swasta Bersama Berastagi Dengan Menggunakan Model Koperatif Tipe Maryy Go Round.
2. Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar kewirausahaan siswa kelas X AP I SMK Swasta Bersama Berastagi Dengan Menggunakan Model Koperatif Tipe Maryy Go Round.





1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan masukan bagi penulis dalam menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang model pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar mata pelajaran kewirausahaan.
2. Sebagai bahan masukan bagi guru dan staf pengajar lainnya dalam memilih alternatif strategi dalam mentransfer ilmu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Maryy Go Round sebagai salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar kewirausahaan.
3. Sebagai sumbangan pikiran untuk bahan refrensi penilitian selanjutnya bagi Fakultas Ekonomi UNIMED khususnya program studi Administrasi Perkantoran.









BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round
Pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam satu kelompok kecil, saling membantu dalam belajar, dalam Pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda satu sama lain. Pembelajaran kooperatif dapat dimaknai juga sebagai strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.
Dalam pembelajaran kooperatif sering terjadi ada anggota yang terlalu dominan dan banyak bicara, sebaliknya ada juga anggota yang pasif dan pasrah saja pada rekannya yang lebih dominan dalam situasi seperti ini, pemerataan tanggung jawab dalam kelompok bisa tidak tercapai karena anggota yang pasif akan terlalu menggantungkan diri pada rekannya yang dominan. Hal ini sejalan dengan pendapat Isjoni, (2009:113) dan Lie, (2008:64), bahwa “teknik keliling kelompok masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lain”
Model pembelajaran Kooperatif Tipe Keliling Kelompok ini memberikan kesempatan lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain dalam pemecahan suatu permasalahan. Pembelajaran kooperatif tipe keliling kelompok merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskusi di dalam kelas yang akan mengaktifkan setiap anggota kelompok. Dimana penerapannya dimulai dari pertama sekali siswa membentuk kelompoknya masing-masing, kemudian masing-masing kelompok diberi waktu 15 menit untuk mempelajari materi yang akan dibahas. Sebelumnya guru telah mempersiapkan pertanyaan yang sesuai dengan indikator (satu buah karton dibuat satu pertanyaan) ditempel di dinding kelas (depan, samping, belakang) dengan jarak tertentu. Setiap kelompok berdiri di depan kertas kartonnya masing-masing, Guru menentukan waktu untuk memulai menulis, Siswa cukup mengisi satu jawaban dengan waktu yang ditentukan guru, Seterusnya tiap kelompok bergilir mengisi jawaban menurut arah jarum jam, dan begitu seterusnya. akhir semua kegiatan diadakan diskusi kelas dan tanya jawab,
Sehingga cooperatif learning tipe Marry Go Round ini dapat:
1. Meningkatkan pembelajaran yang positif
Pembelajaran dengan menggunakan teknik Marry Go round membiasakan siswa bekerja menurut paham demokrasi, memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan sikap musyawarah dan bertanggung jawab serta menghargai pendapat orang lain.
2. Memaksimalkan waktu
Dalam teknik pembelajaran Marry Go Round, waktu yang diperlukan guru lebih efisien, sebelum proses pembelajaran guru bersama siswa menyepakati waktu yang dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran, menjawab pertanyaan yang telah disiapkan guru dan untuk diskusi dikelas
3. Meningkatkan pemikiran yang kreatif dan kritis karena teknik ini dapat berbagi keahlian dan ide, memberi saran umpan balik untuk menjawab permasalahan yang diberikan, siswa berlomba-lomba mengemukakan ide kreatif dan bersama-sama menyatukan ide tersebut.
4. Memupuk kesabaran
Teknik Marry Go Round dapat mengembangkan kesabaran siswa untuk menunggu gilirannya memberikan pendapat.
Oleh karena itu model pembelajaran kooperatif tipe Maryy Go Round membiasakan siswa bekerja menurut paham demokrasi dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan sikap musyawarah dan bertanggung jawab serta menghargai pendapat orang lain.
Menurut Lie, (2008 : 63) langkah-langkah pembelajaran koperatif tipe Maryy Go Round sebagai berikut:
1. Salah satu siswa dalam kelompok memulai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan.
2. Siswa berikutnya juga ikut memberi tanggapan
3. Demikian seterusnya, giliran bicara bisa dilaksanakan menurut perputaran arah jarum jam atau dari kiri kekanan.

Dari langkah-langkah pembelajaran tipe Maryy Go round siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar di kelas. Dari masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan pemikiran yang aktif dan kritis karena teknik ini dapat berbagi keahlian dan ide, memberi saran, umpan balik.
Menurut Sefra(2006) kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif tipe Maryy Go Round adalah:
Keunggulan pembelajaran tipe Maryy Go Round antara lain:
1. Siswa termotivasi dalam belajar
2. Siswa aktif dan kreatif
3. Siswa dapat membina kerjasama yang baik dalam kelompoknya
4. Siswa yang biasanya kurang berani mengemukakan pendapat, dengan teknik ini sudah mulai mengutarakan pendapatnya.
5. Siswa lebih cepat menguasai konsep yang diajarkan, hal ini terlihat dari hasil belajar siswa dalam ulangan harian.

Jadi pembelajaran kooperatif tipe Maryy Go round ini tidak hanya menyoroti nilai secara kelompok melainkan beriorentasi pula pada perolehan nilai secara individu.
Selain memiliki keungulan Pembelajaran tipe Maryy Go Round juga memiliki kelemahan.
Kelemahan pembelajaran koperatif tipe Maryy Go Round adalah:
1. Guru kurang memahami tingkat kesulitan pertanyaan yang diberikan, sehingga rentangan waktu untuk setiap pertanyaan sama.
2. Waktu yang diberikan untuk mempelajari materi terlalu singkat sehingga dalam pelaksanaanya siswa kurang tanggap terhadap kegiatan pembelajaran yang terjadi baik dalam kelompoknya maupun anggota kelompok lain.

Jika didalam kelompok memiliki anggota yang sukar untuk menyesuaikan diri dengan cepat dengan kelompok yang lain, maka akan sangat mengganggu di dalam proses kerja sama di dalam kelompok. Tetapi semua ini dapat diatasi dengan pemberian pemahaman yang kepada siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya sebagai anggota kelompok, karena penilaian yang dilakukan dalam pembelajaran yang dilakukan berdasarkan keberhasilan kelompok walaupun sebenarnya tidak terlepas juga dari penilaian individu setiap individu.


2.1.2 Motivasi Belajar
Pada hakekatnya seorang siswa yang belajar terdapat didalam jiwanya dorongan yang menggerakkan untuk berkeinginan, kemampuan yang besar, dan semangat untuk mendapatkan nilai yang bagus. Dorongan inilah yang biasa disebut dengan Motivasi. Motivasi dapat mendorong dan menggerakkan individu untuk melakukan kegiatan yang mencapai suatu tujuan.
Motivasi tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku tertentu. Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan.
Motivasi menurut Hamalik (2005: 158) adalah “perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Selanjutnya menurut Mc. Donald (dalam Sardiman,2008:73) “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling/rasa” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan”.
Dari uraian diatas dapat dinyatakan bahwa motivasi akan menyebabkan terjadinya perubahan suatu energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu.
Dalam kegiatan belajar, Menurut Sardiman (2008 : 73) Motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang sangat mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dan praktik atau penguatan yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Motivasi dibagi atas dua jenis, yaitu : a). Motivasi Primer dan b). Motivasi Sekunder (Sardiman, 2007:86).
Motivasi primer yaitu motivasi yang didasarkan pada motif – motif dasar. Motif – motif dasar tersebut pada umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. Sedangkan motivasi sekunder sendiri merupakan motivasi yang dipelajari, artinya bahwa perilaku manusia dapat dipengaruhi faktor sosial seperti emosional, sikap, pengetahuan dan intelektual.
Namun jika ditelaah lebih lanjut motivasi mempunyai sifat, sifat motivasi tersebut dibagi atas dua golongan yaitu: a. Motivasi Intrinsik dan b. Ekstrinsik (Sardiman, 2998:89) Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena ada motivasi dari luar.

Motivasi belajar dapat timbul karena Faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita – cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Kedua faktor tersebut disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.
Kedua motivasi ini sangat penting dan saling berhubungan, karena tidak ada rangsangan dari luar yang mempengaruhi seseorang untuk belajar walaupun dalam dirinya terdapat dorongan untuk melakukan kegiatan belajar maka hasil yang didapat tidak optimal, ibaratnya seseorang ingin menghadiri ceramah, karena ia tidak tertarik dengan materi yang disampaikan dan cara penyampaiannya, maka ia tidak akan mendengarkan ceramah tersebut, apalagi mencatat isi ceramah tersebut.
Slameto (2003:54) menyatakan bahwa “ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi intrinsik siswa yaitu: faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Faktor jasmaniah terdiri dari kesehatan dan cacat tubuh. Sedangkan faktor psikologis terdiri dari intelegensi, perhatian, minat dan motivasi”.
Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan tergangu jika kesehatannya terganggu, selain itu ia juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah.
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dibanding yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya.
Perhatian merupakan salah satu faktor dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa, agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
Minat juga berpengaruh terhadap tumbuhnya motivasi belajar siswa, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, dia tidak akan belajar sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya.
Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yag dikehendaki oleh individu lain/organisasi.
Adapun menurut Uno (2009:23), yaitu:
Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan untuk berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Kedua faktor tersebut umumnya disebabkan oleh ransangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan un tuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Uno (2009) motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul oleh adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar individu sehingga seseorang berkeinginan untuk mengadakan perubahan tingkah laku tertentu lebih baik dari keadaan sebelumnya, yang mempunyai indikator sebagai berikut :
1. Adanya hasrat dan keinginan untuk melakukan kegiatan belajar, yaitu tingkah laku seseorang yang merasa senang terhadap belajar atau dorongan rasa ingin tahu yang menyebabkan seseorang ingin tahu tentang pelajaran.
2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, yaitu sesuatu yang berada diluar diri manusia sehingga kegiatan manusia lebih terarah karena seseorang akan berusaha lebih bersemangat dan giat dalam berbuat sesuatu termasuk belajar.
3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan, misalnya seseorang berkemampuan keras atau kuat dalam belajar karena adanya harapan berhasil setelah belajar.
4. Adanya penghargaaan dalam belajar, artinya seseorang akan lebih terdorong dalam belajar jika ada harapan penghargaan atas prestasinya.
5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, yaitu seseorang akan lebih suka belajar jika cara belajar atau guru menggunakan metode yang sesuai dengan keadaan kelas dan keadaan siswa.
6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif, artinya seseorang senang terhadap kegiatan yang dilakukan yaitu belajar.
Gage dan Berliner (dalam Slameto, 2003:176) menyatakan bahwa ada beberapa aspek yang dapat dilakukan guru dalam meningkatkan motivasi siswa, yaitu :
1. Menggunakan pujian verbal
2. Menggunakan simulasi dan permainan
3. Menggunakan tes dalam nilai secara bijaksana
4. Merangsang hasrat dengan jalan memberikan pada siswa sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha untuk belajar.
5. Menyajikan materi dengan sesuatu cara yang unik dan menyenangkan.

Pengunaan pujian verbal seperti “bagus”, “baik” yang diucapkan guru setelah siswa melakukan sesuatu seperti mengerjakan tugas atau menjawab pertanyaan guru, merupakan pembangkit motivasi yang besar.
Penggunaan simulasi dan permainan merupakan cara yang paling jitu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, karena siswa belajar secara rileks tanpa terbebani dengan catatan dan hapalan.
Penggunaan tes dalam nilai secara bijaksana juga menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi siswa yaitu dengan tes siswa belajar bahwa ada keuntungan yang diperolehnya dengan nilai yang tinggi. Tapi tes dan nilai harus dipakai secara bijaksana, yaitu untuk menilai penguasaan dan kemajuan siswa, bukan untuk menghukum atau membandingkannya dengan siswa yang lain.
Dengan hadiah guru juga dapat merangsang siswa untuk mau belajar, berikan pada siswa suatu pemahaman jika ia mau belajar bersunguh-sunguh maka ia akan mendapatkan imbalan dari hasil belajar yang diperolehnya.
Dengan penyajian materi dengan cara unik dan menyenangkan yang berbeda dari biasanya yang guru lakukan akan membangkitkan motivasi belajar siswa, pelajaran akan muda di ingat tanpa perlu dihapal, misalkan dengan menyuruh siswa menjadi guru.
Dan akhirnya guru merupakan stimulus yang sangat besar pengaruhnya dalam motivasi siswa untuk belajar. Guru berkemampuan untuk merancang bahan ajar, dengan tujuan agar motivasi belajar individu bertambah besar yang berdampak pada meningkatnya hasil belajar.

2.1.3 Hasil Belajar
Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan suatu hasil yang telah dicapai pebelajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh4 mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Kunandar (2007:229) menyatakan bahwa “hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar. Dimana hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap”.
Sementara itu sudjana (2006:22) menyatakan “hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman-pengalaman belajarnya”.
Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa dalam memenuhi tahapan pencapaian pengalaman beajar dalam kompetensi dasar.
Hasil belajar berfungsi sebagai petunjuk perubahan perilaku yang dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sehingga dapat diketahui sejauh mana perubahan tingkah laku siswa setelah terjadi proses belajarnya dan guru dapat mengambil tindakan pengajaran yang tepat seperti melakukan perubahan dalam strategi belajar mengajar atau melakukan perubahan teknik mengajar agar hasil belajar yang diperoleh siswa semakin meningkat.
Tolak ukur dari rendahnya mutu pendidikan juga dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa, kualitas proses belajar mengajar dan mutu hasil belajar adalah indikator keberhasilan pelaksanaan suatu sistem kurikulum.
Hasil belajar dapat diukur dengan penilaian, evaluasi yang dapat diperoleh dari nilai tugas, nilai sumatif, nilai MID, dan nilai ujian final yang kemudian dirata-ratakan dan disajikan dalam rapor siswa. Dengan mengukur hasil belajar maka akan dapat diketahui seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai, jika hal ini dihubungkan dengan peningkatan hasil belajar berarti adanya perubahan positif yang semakin meningkat akibat adanya pembelajaran.
Istilah hasil belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan prestasi belajar. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pengertian prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya.
Menurut Nawawi (1981: 127), berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a. Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
b. Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan.
c. Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.

Dengan demikian Hasil belajar Kewirausahaan adalah perubahan kemampuan yang ada dalam diri siswa berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh setelah mengalami interaksi proses pembelajaran dalam mata pelajaran Kewirausahaan dan setelah dilakukan test.

2.1 Penelitian Yang Relevan
Djuni Sefra (2006), dalam penelitian yang berjudul ” Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Keliling Kelompok Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa pada pokok bahasan bioteknologi di SMA N 5 Bukit Tinggi. Dari penelitian yang dilakukan dikemukakan kesimpulan bahwa dengan penerapan model pembelajaran keliling kelompok dapat meningkatkan minat dan hasil belajar. Pengaruh yang diperoleh dari penelitian ini sebesar 18,5%
Halifah (2007), dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Maryy Go Round Terhadap hasil belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Linier di Kelas VII SMP N 2 Bukit Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan pengajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe Maryy Go Round secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Muhammad (2008), dalam penelitian yang berjudul “ Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Maryy Go round Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas XI IS SMA N 3 Riau. Hasil penelitian diperoleh ketuntasan klasikal pada siklus I setelah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif mencapai 52,9% atau 18 dari 34 siswa dengan daya serap rata-rata 65, 4%. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 32,3% sehingga ketuntasan klasikal mencapai 85,3% atau 29 dari 34 siswa dengan daya serap rata-rata 77,3 %.

2.2 Kerangka Berpikir
Pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu strategi dalam membenahi dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Kewirausahaan merupakan salah satu pengajaran yang membutuhkan ketelitian dan pemahaman yang tinggi dalam pengajarannya. Oleh sebab itu diperlukan guru yang berkompeten dan kreatif. Guru dituntut untuk lebih dapat menciptakan suasana pembelajaran yang dapat melibatkan seluruh siswa, sehingga tidak ada lagi yang hanya diam dan mendengarkan guru menerangkan pelajaran didepan kelas.
Guru sebagai perancang pembelajaran harus dapat menyajikan Kewirausahaan semenarik mungkin agar siswa menjadi tertarik dan termotivasi untuk mempelajari Kewirausahaan. Kegiatan pembelajaran mencakup dua komponen penting yaitu proses dan hasil belajar. Keberhasilan peserta didik lebih banyak ditentukan guru dalam mengelola kelas.
Dari segi proses strategi pembelajaran dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Maryy Go Round. Model pembelajaran kooperatif tipe Maryy Go Round sangat sesuai diterapkan untuk belajar Kewirausahaan. Hal ini didasarkan pada belajar Kewirausahaan yang sangat membutuhkan kerjasama untuk lebih mudah mempelajarinya.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa dibiasakan bekerjasama dalam kelompok. Siswa dididik untuk menghargai pendapat orang lain. Siswa yang mempunyai kemampuan kelebihan akan membantu siswa yang kurang mampu belajar tanpa rasa minder sehingga dari kelompok yang hetorogen ini akan menciptakan persaingan positif di kelas.
Model pembelajaran yang diberikan oleh guru pada proses mengajar merupakan ransangan-ransangan kepada siswa yang dapat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar kearah positif. Guru akan membantu dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberi dan menemukan informasi. Tugas yang berat yang dikerjakan seorang diri akan lebih ringan saat dikerjakan bersama. Saat inilah siswa menyadari pentingnya kehidupan bersama dan akan terbiasa menghargai pendapat orang lain serta berani mengemukakan pendapatnya sendiri.
Dilihat dari hal diatas bahwa tipe Marry Go Round lebih menekankan kepada siswa, dimana siswa lebih aktif dikarenakan dengan menggunakan model ini lebih menekankan pada pemerataan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Sedangkan dengan cara tradisional membuat siswa pasif sehingga terlibat mengandung unsur paksaan,pada siswa yang pasif menjadi rugi sedangkan anak yang audiktif lebih besar hak perolehan hak belajar siswa. Bila terus digunakan terlalu lama akan terlihat bosan.
Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut.
Berdasarkan uraian diatas maka diharapkan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Maryy go round dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan motivasi belajar kewirausahaan di SMK Swasta Bersama Berastagi Tahun Pembelajaran 201O/2011.

















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Swasta Bersama Berastagi yang beralamat di Jl. Patuan Anggi No.8 Tahun Pembelajaran 2010/2011.

3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang akan dijadikan sumber data. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas X AP I SMK Swasta Bersama Berastagi Tahun Ajaran 2010/2011.
3.2.1 Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil 43 orang dari keseluruhan kelas X AP I.
3.3. Objek Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar Kewirausahaan siswa melalui Model pembelajaran kooperatif Tipe Marry Go Round.

3.4. Defenisi Operasional
a. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Marry Go Round adalah teknik pembelajaran dimana masing-masing kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan pemikiran yang aktif dan kritis karena dengan teknik ini dapat berbagi keahlian.
b. Hasil belajar Kewirausahaan adalah perubahan kemampuan yang ada dalam diri siswa berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh setelah mengalami interaksi proses pembelajaran dalam mata pelajaran Kewirausahaan dan setelah dilakukan test.
c. Motivasi Belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai

3.5. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai dalam upaya peningkatan hasil belajar Kewirausahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar Kewirausahaan siswa.
Secara garis besar, ada empat tahapan yang dilalui dalam penelitian ini, yaitu (a) perencanaan, (b) pelaksanaan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi.
Berikut ini gambar model penelitian tindakan kelas yang akan digunakan sebagai siklus dalam penelitian:


Gambar III.1
Siklus Penelitian Tindakan Kelas






Sumber: Arikunto, dkk (2008 : 16)
Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses penelitian ini adalah sebagai berikut:
A. Perencanaan Tindakan
Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1. Membuat skenario pembelajaran
2. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan dalam kegiatan belajar.
3. Membuat instrument penelitian yang meliputi alat evaluasi berupa tes disertai jawaban dan panduan penskoran.
B. Pelaksanaan Tindakan
1. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang berbentuk silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP).
2. Melaksanakan skenario tindakan dari tes yang berhubungan dengan materi pelajaran.
3. Membuat lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi proses belajar dengan pembelajaran Maryy Go Round
4. Menyusun masalah yang akan dibahas atau dipecahkan siswa.
C. Observasi
Pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi dan melakukan evaluasi hasil terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar setelah dilaksanakan tindakan.
D. Refleksi
Pada tahap ini, hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan kemudian dianalisis. Dari hasil analisis tersebut akan dilihat apakah telah memenuhi target yang ditetapkan. Jika belum memenuhi atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya akan diperbaiki pada silkus berikutnya.

Tabel III.1
Pelaksanaan Penelitian
Siklus 1
No Perencanaan Tindakan Observasi Refleksi
1. • Menyusun satuan pembelajaran(RPP)

• Mempersiapkan fasilitas atau bahan dan alat yang dipergunakan dalam teknik Marry Go Round

• Membuat soal test

• Menyiapkan lembar observasi • Menyampaikan tujuan pembelajaran
• Menyajikan materi yang sesuai
• Membentuk kelompok siswa, siswa bebas memilih kelompoknya
• Menentukan peran masing-masing siswa dan memberikan penugasan kelompok.
• Memberikan penegasan dan pengarahan kepada setiap siswa.
• Memberikan test lisan dan tulisan
• Memberikan tugas

• Mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif teknik Maryy Go Round
• Mengawasi pembentukan kelompok
• Memantau keaktifan siswa dalam diskusi
• Menilai kerja sama siswa dalam kelompok
• Mengamati pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Maryy Go Round
• Mengamati catatan pribadi siswa

• Mencatat hasil oservasi

• Mengawasi hasil observasi

• Menganalisis hasil pembelajaran.

• Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.






Tabel III.2
Pelaksanaan Penelitian
Siklus 2
No Perencanaan Tindakan Observasi Refleksi
1. • Menyusun rencana perbaikan

• Memadukan hasil refleksi siklus 1 agar siklus 2 lebih efektif

• Menyiapkan lembar blanko observasi • Menyampaikan tujuan pembelajaran
• Menyajikan materi yang sesuai
• Membentuk kelompok siswa siswa bebas memilih kelompoknya
• Menentukan peran masing-masing siswa dan memberikan penugasan kelompok.
• Memberikan penegasan dan pengarahan kepada siswa.
• Memberikan test lisan dan tulisan
• Memberikan tugas
• Mengamati perilaku siswa terhadap pengguanaan model pembelajaran Marry Go Round
• Mengawasi pembentukan kelompok
• Memantau keaktifan siswa dalam diskusi
• Memantau kerja sama siswa
• Mengamati pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Marry Go Round
• Mengamati catatan pribadi siswa. • Mencatat hasil oservasi

• Mengawasi hasil observasi

• Menganalisis hasil pembelajaran.

• Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.






3.6. Teknik Pengumpulan Data
A. Pemberian Tes
Tes yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa sesudah proses belajar mengajar. Adapun tes yang diberikan berbentuk essay. Hasil tes yang diperoleh digunakan untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal-soal. Tes yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari buku paket kelas X.
B. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan terhadap seluruh kegiatan pembelajaran yang terjadi saat dilakukan pemberian tindakan dengan menggunakan lembar observasi untuk mengukur motivasi siswa dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.
Berikut format observasi yang akan dirancang peneli.
Tabel III.2

Lembar Observasi
Motivasi Siswa dalam belajar

NO NAMA SISWA Aspek Siswa yang dinilai Jumlah Ket
1 2 3 4 5 6





Keterangan Skala Penilaian:
A. Aspek yang dinilai
1. Adanya hasrat dan keinginan untuk melakukan kegiatan belajar
2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar
3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan, misalnya seseorang berkemauan keras atau kuat dalam belajar jika ada harapan penghargaan atas prestasinya.
4. Adanya penghargaan dalam belajar
5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif
B. Kriteria Skor
0 = Tidak ada
1 = Ada
C. Kriteria Penilaian
5-6 = Motivasi tinggi
3-4 = Motivasi sedang
1-2 = Motivasi rendah
0 = Tidak termotivasi

3.7 Teknik Analisis Data
1. Reduksi Data
Proses reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, menyederhanakan dan mentransformasikan data yang telah disajikan dalam bentuk catatan lapangan. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat kesalahan jawaban siswa dalam menyelesaikan soal-soal Kewirausahaan dan tindakan apa yang dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
2. Penyajian Data
Kegiatan analisis berupa paparan data adalah sebagai kumpulan informasi yang terorganisasi dan terkategorikan sehingga memungkinkan adanya kesimpulan. Data yang dianalisis untuk mendeskripsikan ketuntasan belajar siswa yaitu data yang diperoleh dari nilai akhir tiap siklus. Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di sekolah, seorang siswa dikatakan

telah mencapai ketuntasan belajar jika mencapai skor 70 dan suatu kelas dikatakan tuntas terhadap suatu materi pelajaran jika skor rata-rata kelas mencapai nilai 70.
Untuk mengukur tingkat atau persentase penguasaan materi pembelajaran digunakan rumus:
DS =
(Arikunto, 2008)
Keterangan:
DS = Daya Serap
Kriteria:
0 % DS < 70% Siswa belum tuntas belajar
70 % DS 100% Siswa telah tuntas belajar
Secara individu, siswa dinyatakan tuntas apabila hasil belajar 70%.
Selanjutnya dapat diketahui ketuntasan secara keseluruhan dengan rumus sebagai berikut:
D= x 100%
(Arikuto, 2008)
Keterangan:
D= Persentase kelas yang telah mencapai daya serap 70%
X= Jumlah siswa yang telah mencapai daya serap 70%
N= Jumlah siswa subjek penelitian

Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar, jika dikelas tersebut telah terdapat skor rata-rata kelas mencapai nilai 70%, maka ketuntasan secara keseluruhan terpenuhi.
Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari hasil lembaran observasi motivasi siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Hasil observasi motivasi siswa, respon siswa terhadap pengelolaan pembelajaran dianalisis dengan deskriptif persentase secara kuantitatif.
3. Kesimpulan
Dalam kegiatan ini ditarik beberapa kesimpulan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan yang diambil merupakan dasar bagi pelaksanaan siklus selanjutnya dan perlu tidaknya siklus selanjutnya dilakukan.





DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Halifah, 2007. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe maryy go round terhadap hasil belajar matematika siswa pada Pokok Bahasan Linier di kelas VII SMP N 2 Bukit Tinggi. Dalam http:// digilib.unp.ac.id/go=gdlhub-gdl-grey-2007Halifahs/ diakses, 1April 2010

Hamalik,U.2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Kagan Spencer. 1999. Cooperative Learning and Multiple Intelligences – What are the Connection.Dalam http: //www.kaganonline.com/kaganclub/freearticles. / Diakses, 5 mei 2009


Kunandar. 2007. Langkah-Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembang Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers

Lhany. 2009. Pendidikan Bagi anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Lie. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo

Mulyasa. 2008. Belajar Untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Nawawi 2006. Belajar dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Grasindo

Sardiman. 2008. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo.

Sefra, Djuni. 2006. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe keliling kelompok untuk meningktkan minat dan hasil belajar siswa pada pokok bahasan bioteknologi di SMA N 5 Bukit Tinggi. Dalam http:// digilib.unp.ac.id/go=gdlhub-gdl-grey-2008djunisefra/ diakses, 1April 2010

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sudjana, Nana. 2006. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Uno, B, Hamzah. 2009. Model Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Penerapan Strategi Belajar Aktif Tipe Index Card Match (ICM) Dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Di Kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan Tahun Pelajaran 2009/2010”.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kreativitas pendidikan bangsa itu sendiri. Kompleksnya masalah kehidupan menuntut sumber daya manusia handal dan mampu berkompetensi. Selain itu pendidikan merupakan wadah yang dapat dipandang sebagai pembentuk sumber daya manusia yang bermutu tinggi.
Berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh pembelajaran yang berlangsung. Pembelajaran adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru tetapi melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.
Proses pembelajaran tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan dan saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara guru dan peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung memegang peranan penting untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemungkinan kegagalan guru dalam menyampaikan suatu pokok bahasan disebabkan saat proses belajar mengajar guru kurang membangkitkan perhatian dan aktivitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh penulis di SMK Swasta Teladan Medan, penulis menemukan bahwa aktivitas belajar akuntansi siswa kelas X Akuntansi 2 tergolong rendah. Hanya beberapa siswa yang hasil belajarnya baik yang lebih aktif menjawab pertanyaan guru sedangkan siswa yang kurang pandai tidak berusaha menjawab dan tidak berani bertanya kepada guru, masih ada siswa yang hanya berdiam diri dan masih banyak siswa yang sibuk dengan kegiatannya sendiri selama proses belajar mengajar berlangsung. Keadaan tersebut berdampak buruk terhadap hasil belajar akuntansi siswa yang kurang memuaskan. Dari 39 orang siswa dalam satu kelas yang telah mengikuti ulangan harian mata pelajaran akuntansi hanya sekitar 48% yang tuntas nilai standar ketuntasan minimal yaitu 70, selain itu terdapat kesenjangan hasil belajar yang diperoleh siswa yakni jarak antara nilai siswa yang mendapat nilai tertinggi dengan siswa yang mendapat nilai terendah cukup signifikan.
Hal ini disebabkan karena strategi pembelajaran yang diterapkan guru cenderung tetap yakni pengajaran konvensional yang menyebabkan siswa kurang mandiri dan daya kreativitasnya terbatas. Pada pengajaran konvensional guru berdiri di depan kelas mendominasi seluruh kegiatan pembelajaran dan berceramah panjang lebar tentang materi yang sedang dibahas, sedangkan siswa hanya sebagai objek pasif dalam kegeiatan pembelajaran tersebut. Keadaan seperti ini membuat siswa yang belajar secara individu kurang melibatkan interaksi sosial sehingga menimbulkan kebosanan siswa yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar akuntansi siswa.
Untuk mengatasi masalah di atas, perlu dikembangkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat dan aktivitas siswa. Salah satunya ialah penerapan strategi Strategi Belajar Aktif Tipe Index Card Match (ICM). Strategi Belajar Aktif Tipe Index Card Match merupakan strategi pengulangan (peninjauan kembali) materi, sehingga siswa dapat mengingat kembali materi yang telah dipelajarinya. Dalam strategi pembelajaran ini siswa dituntut untuk menguasai dan memahami konsep melalui pencarian kartu indeks, dimana kartu indeks terdiri dari dua bagian yaitu kartu soal dan kartu jawaban. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memperoleh satu buah kartu. Dalam hal ini siswa diminta mencari pasangan dari kartu yang diperolehnya. Siswa yang mendapat kartu soal mencari siswa yang memiliki kartu jawaban, demikian sebaliknya. Strategi pembelajaran ini mengandung unsur permainan sehingga diharapkan siswa tidak bosan dalam belajar akuntansi.
Berdasarkan uraian di atas, masalah ini penting untuk diteliti sehingga penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Strategi Belajar Aktif Tipe Index Card Match (ICM) Dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Di Kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan Tahun Pelajaran 2009/2010”.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis telah mengidentifikasikan beberapa masalah yang dihadapi antara lain :
1. Apakah strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru SMK Swasta Teladan Medan sudah sesuai?
2. Faktor apa yang menyebabkan rendahnya aktivitas belajar siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan?
3. Faktor apa yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan?
4. Apakah penggunaan strategi belajar aktif tipe Index Card Match (pencocokan kartu indeks) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan Tahun Ajaran 2009/2010?

1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diungkapkan di atas, maka rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah dengan penerapan strategi belajar aktif tipe Index Card Match (pencocokan kartu indeks) dapat meningkatkan aktivitas belajar akuntansi siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan Tahun Pelajaran 2009/2010?
2. Apakah dengan penerapan strategi belajar aktif tipe Index Card Match (pencocokan kartu indeks) dapat meningkatkan hasil belajar akuntansi siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan Tahun Pelajaran 2009/2010?


1.4. Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi siswa adalah menggunakan strategi belajar aktif tipe Index Card Match (pencocokan kartu indeks).
Strategi pembelajaran Index Card Match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu indeks yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran ini lebih menarik karena siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Dalam strategi ini siswa harus mengerjakan banyak tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar juga harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras. Dengan demikian strategi ini membuat siswa terbiasa aktif mengikuti pembelajaran sehingga aktivitas siswa meningkat.
Strategi pembelajaran Index Card Match dapat melatih pola pikir siswa karena dengan strategi ini siswa dilatih kecepatan berpikirnya dalam mempelajari suatu konsep atau topik melalui pencarian kartu jawaban atau kartu soal, setiap siswa pasti mendapat pasangan kartu yang cocok lalu mendiskusikan hasil pencarian pasangan kartu yang sudah dicocokkan oleh siswa bersama pasangannya dan siswa lainnya. Dengan mendiskusikan bersama pasangannya maka siswa akan lebih mengerti dengan konsep materi yang sedang dipelajari. Karena pembelajaran ini dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, maka diharapkan dapat meningkatkan semangat dan aktivitas siswa dalam belajar akuntansi sehingga hasil belajarnya akan lebih baik.
Dari uraian di atas maka pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah dengan penerapan strategi pembelajaran Index Card Match diharapkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan dapat ditingkatkan.

1.5. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar akuntansi siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan melalui penerapan strategi belajar aktif tipe Index Card Match.
2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar akuntansi siswa di kelas X Akuntansi 2 SMK Swasta Teladan Medan melalui penerapan strategi belajar aktif tipe Index Card Match.

1.6. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengguna informasi penelitian ini. Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Menambah pengetahuan penulis mengenai strategi belajar aktif tipe Index Card Match dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi siswa.
2. Sebagai bahan masukan bagi guru dan pihak sekolah di SMK Swasta Teladan Medan dalam menggunakan strategi pembelajaran aktif untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan mutu pendidikan sekolah.
3. Sebagai referensi dan masukan bagi civitas akademis fakultas ekonomi Universitas Negeri Medan dan pihak lain dalam melakukan penelitian yang sejenis.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Teoritis
2.1.1. Strategi Belajar Aktif Tipe Index Card Match
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Secara umum strategi dapat diartikan sebagai rencana tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau untuk mencapai tujuan tertentu. Seperti yang diungkapkan Lawson (dalam Sanjaya 2008:210) bahwa “Strategi dapat diartikan sebagai prosedur mental yang berisi tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu”. Sedangkan dalam konteks pengajaran “Strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan” (Djamarah 2006:5).
Strategi merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung berhasilnya suatu kegiatan pembelajaran, karena arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Menurut Kemp (dalam Sanjaya 2008:126) “Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien”.
Sejalan dengan pendapat di atas Sudjana (dalam Rohani 2004:34) mengatakan bahwa “Strategi pengajaran (mengajar) adalah ‘taktik’ yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran (TIK) secara lebih efektif dan efisien”.
Dengan demikian, sebelum menentukan strategi pembelajaran, perlu dirumuskan tujuan pembelajaran yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, agar dalam penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya dapat diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan tersebut. Maka dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran tidak hanya menekankan kepada akumulasi pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (self regulated). Karena itu, pembelajaran memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan menghasilkan self regulated. Yang bisa menghasilkan self regulated adalah pembelajaran aktif (active learning). Hal ini sejalan dengan pernyataan Konfusius (dalam Silberman 2006:23) tentang pentingnya pembelajaran aktif yaitu: “Yang saya dengar, saya lupa. Yang saya lihat, saya ingat. Yang saya lakukan, saya paham”.
Menurut Zaini (2008:xiv) “Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif”. Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu active learning juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran aktif, siswa harus mengerjakan banyak tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi ini pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka.
Strategi pembelajaran aktif dimaksudkan untuk mengoptimalkan semua potensi anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Pembelajaran ini pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respon anak didik dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dalam strategi ini juga setiap materi pelajaran harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya.
Ada banyak strategi pelajaran yang dapat digunakan dalam menerapkan pembelajaran aktif di sekolah. Silberman (2006) mengemukakan 101 bentuk strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh siswa. Salah satu bentuk strategi itu adalah Strategi Pembelajaran Index Card Match (pencocokan kartu indeks).
“Index Card Match adalah salah satu teknik instruksional dari belajar aktif yang termasuk dalam berbagai reviewing strategis (strategi pengulangan)” (Silberman 2006:250). Tipe Index Card Match ini berhubungan dengan cara-cara untuk mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan serta kemampuan mereka saat ini dengan teknik mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana menyenangkan. Biasanya guru dalam kegiatan belajar mengajar memberikan banyak informasi kepada siswa agar materi atau pun topik dalam program pembelajaran dapat terselesaikan tepat waktu, namun guru terkadang lupa bahwa tujuan pembelajaran bukan hanya materi yang selesai tepat waktu tetapi sejauh mana materi telah disampaikan dapat diingat oleh siswa. Karena itu dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan peninjauan ulang atau review untuk mengetahui apakah materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Silberman (2006:249) :
Salah satu cara yang pasti untuk membuat pembelajaran tetap melekat dalam pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa yang telah dipelajari. Materi yang telah dibahas oleh siswa cenderung lima kali lebih melekat di dalam pikiran ketimbang materi yang tidak.


Kurniawati (17 September 2009) juga mengatakan bahwa :
Strategi pembelajaran Index Card Match merupakan suatu strategi yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi baru pun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan, peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan.

Berdasarkan pendapat di atas, strategi pembelajaran Index Card Match merupakan strategi pembelajaran yang menuntut siswa untuk bekerja sama dan dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa atas apa yang dipelajari dengan cara yang menyenangkan. Siswa saling bekerja sama dan saling membantu untuk menyelesaikan pertanyaan dan melemparkan pertanyaan kepada pasangan lain. Kegiatan belajar bersama ini dapat membantu memacu belajar aktif dan kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil yang memungkinkan untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi.
Dengan demikian strategi belajar aktif tipe index card match adalah suatu cara pembelajaran aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran dengan teknik mencari pasangan kartu indeks yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana menyenangkan.
Strategi pembelajaran index card match sebagai salah satu aternatif yang dapat dipakai dalam penyampaian materi pelajaran selama proses belajar mengajar juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.
Handayani (07 Januari 2009) menyatakan bahwa terdapat kelebihan dan kelemahan strategi pembelajaran index card match:
a. Kelebihan dari strategi belajar aktif index card match yaitu :
1) Menumbuhkan kegembiraan dalam kegitan belajar mengajar.
2) Materi pelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa.
3) Mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.
4) Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar.
5) Penilaian dilakukan bersama pengamat dan pemain.
b. Kelebihan dari strategi belajar aktif index card match yaitu :
1) Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa untuk menyelesaikan tugas dan prestasi.
2) Guru harus meluangkan waktu yang lebih.
3) Lama untuk membuat persiapan
4) Guru harus memiliki jiwa demokratis dan ketrampilan yang memadai dalam hal pengelolaan kelas
5) Menuntut sifat tertentu dari siswa atau kecenderungan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah
6) Suasana kelas menjadi “gaduh” sehingga dapat mengganggu kelas lain.

Dilihat dari aktivitas belajar siswa, siswa yang mendapat pelajaran dengan menggunakan index card match akan lebih aktif dan bergairah dalam belajar. Hal yang sama terjadi pada indikator bentuk pembelajaran, index card match dalam penggunaannya menunjukkan interaksi banyak arah antara guru dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan siswa dalam kadar yang intensif serta suasana kelas yang harmonis.
Silberman (2006:250) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran dengan Index Card Match ini adalah :
1. Pada kartu indeks yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah kartu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan setengah jumlah siswa.
2. Pada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atau masing-masing pertanyaan itu.
3. Campurkan dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampur aduk.
4. Berikan satu kartu untuk setiap siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan pencocokan. Sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauan dan sebagian lagi mendapatkan kartu jawabannya.
5. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari tempat duduk bersama (katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka).
6. Bila pasangan yang cocok telah duduk bersama, guru memanggil siswa secara acak untuk membacakan soal tiap pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa lain dengan membacakan pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya.

Berdasarkan langkah-langkah di atas maka penulis dapat memodifikasinya sebagai berikut : pada kartu terpisah ditulis pertanyaan dan kunci jawaban. Masing-masing siswa diberikan satu kartu (siswa ada yang mendapat pertanyaan dan ada yang mendapat kunci jawaban). Siswa yang mendapatkan pertanyaan mencari pasangan kunci jawaban yang cocok, sedangkan siswa yang mendapat kunci jawaban tetap duduk di bangkunya dan memikirkan soal yang bagaimana yang sesuai dengan kunci jawaban yang dimilikinya. Setelah pasangan pertanyaan dan kunci jawaban yang cocok bertemu, diminta kepada mereka untuk meyakinkan bahwa apa itu benar-benar cocok. Bagi siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang ditentukan akan diberi poin. Setelah semua pasangan duduk maka diminta kepada masing-masing pasangan secara bergiliran untuk memaparkan pertanyaan yang ada pada kartu mereka kepada pasangan yang lain, dimana penyelesaiannya langsung dikerjakan di papan tulis.
Semua siswa harus siap untuk tampil karena dipilih secara acak oleh guru. Secara tidak langsung mereka akan berusaha untuk mengingat dengan baik materi yang telah diajarkan oleh guru. Hal ini akan mengakibatkan siswa akan belajar dengan aktif dan efektif. Apabila siswa yang menyelesaikan pertanyaan tidak dapat menyelesaikannya, maka pasangan yang melempar pertanyaan bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Karena keterbatasan waktu maka ada kemungkinan tidak semua pertanyaan ditampilkan. Pertanyaan yang tidak ditampilkan dijadikan tugas rumah dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Kemudian kegiatan akhir dari pertemuan ini adalah guru dan siswa membuat kesimpulan dari materi yang diperoleh.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa langkah pertama yang paling penting dalam menerapkan strategi belajar aktif tipe index card match yaitu menyiapkan beberapa kartu yang sesuai dengan konsep materi yang akan dipelajari. Strategi pembelajaran ini juga bisa divariasikan seperti langkah-langkah yang telah diuraikan sebelumnya sehingga dengan menerapkan strategi pembelajaran index card match diharapkan hasil belajar akan meningkat.

2.1.2. Aktivitas Belajar
Belajar bukan kegiatan menghafal suatu konsep, pengertian dari suatu materi pelajaran. Namun, pada hakikatnya belajar tidak terlepas dari melakukam suatu tindakan ataupun aksi yang menyebabkan terjadinya perubahan bagi orang yang melakukannya. Tindakan tersebut dinamakan aktivitas.
Sardiman (2009:95) mengatakan bahwa “pada prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku”. Maka, tidak ada belajar tanpa disertai aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting di dalam intraksi belajar mengajar.
Djamarah (2008:38) mengatakan bahwa “belajar bukanlah berproses dalam kehampaan, tidak pula sepi dari berbagai aktivitas. Tidak pernah terlihat orang yang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya”.
Di sekolah seorang guru berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Proses pembelajaran yang dilakukan dalam kelas merupakan aktivitas menstransformasikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Guru diharapkan mampu mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar dan potensi yag dimiliki siswa serta guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir (psikis) maupun dalam berbuat (fisik). Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa sehingga siswa aktif dalam proses pembelajaran.
Menurut Sanjaya (2008:132) bahwa “aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental”.
Sedangkan Rohani (2004:6) berpendapat bahwa “seorang anak berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa berbuat anak tak dapat berpikir. Agar ia berpikir sendiri, ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri”. Dua aktivitas (fisik dan psikis) ini harus dipandang sebagai hubungan yang erat, maka pada saat siswa aktif jasmaninya, dengan sedirinya juga aktif jiwanya. Namun, siswa dikatakan aktif (on task), apabila tidak melakukan penyimpangan dalam hal berbicara di luar pelajaran, memandang ke kiri ke kanan, mengganggu teman, mencari perhatian, mengerjakan tugas lain, ke luar masuk kelas.
Diedrich (dalam Sardiman, 2009:101) menyimpulkan terdapat 177 macam kegiatan siswa yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa, antara lain dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Visual activities, yaitu membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activities, yaitu menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4. Writing activities, yaitu menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5. Drawing activities, misalnya : menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7. Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Klasifikasi di atas menunjukkan bahwa aktivitas yang terjadi dalam pembelajaran cukup kompleks. Jika hal ini dapat dilakukan dalam pembelajaran di sekolah, maka proses belajar mengajar tidak akan membosankan dan akan menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal.
Dalam proses pembelajaran akuntansi, sangat diperlukan aktivitas siswa yang aktif (on task) karena mata pelajaran akuntansi bukan mata pelajaran yang hanya sekedar menghapal pengertian dan konsep-konsep, namun lebih pada pemahaman konsep yang terlihat dari praktik dalam pembelajaran. Selama ini aktivitas yang dominan dilakukan siswa terbatas pada mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan bila guru memberikan pertanyaan. Proses belajar mengajar semacam ini jelas kurang mendorong anak didik untuk berpikir dan berkreativitas.
Untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar akuntansi maka aktivitas siswa pun harus lebih ditingkatkan, bukan hanya sekedar mendengar, mencatat dan menghapal, sehingga dengan peningkatan aktivitas belajar akuntansi akan tercapai tujuan belajar yaitu perubahan yang diharapkan dalam diri siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan unsur fisik (jasmani) dan psikis (mental) di dalam proses belajar mengajar akuntansi.


2.1.3. Hasil Belajar Akuntansi
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Belajar pada hakikatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhannya. Seorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, ketrampilannya meningkat, sikapnya semakin positif, dan sebagainya.
Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar dilaksanakan, baik dalam bentuk prestasi maupun perubahan tingkah laku dan sikap siswa yang telah mengalami belajar. Hasil belajar dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu pelajaran.
Menurut Hamalik (2009:30) “hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan”. Perubahan tersebut diartikan adanya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibanding sebelumnya. Perubahan yang timbul pada individu harus mengarah pada perubahan positif yang berupa kecakapan sikap, kebiasaan dan pengertian.
Menurut Yasa (15 Februari 2009) “Hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai individu setelah mengalami proses belajar dalam jangka waktu tertentu”. Sedangkan Djamarah (2006:119) menyimpulkan bahwa “hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Melalui proses belajar seseorang akan mengalami perubahan dalam tingkah lakunya yakni sebagai hasil belajar yang dilakukannya. Proses belajar mengajar dan hasil belajar merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu, maka segala sesuatu yang mempengaruhi proses belajar harus dioptimalkan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Menurut Bloom (dalam Sardiman, 2009:23), ada tiga kemampuan yang diharapkan siswa sebagai hasil belajar yaitu :
a. Kognitif Domain, yaitu perilaku yang berhubungan dengan pengetahuan, ingatan, pemahaman, menjelaskan, menguraikan, merencanakan, menilai, dan menerapkan.
b. Affective Domain, yaitu perilaku yang berhubungan dengan sikap menerima, memberikan respons, menilai, organisasi dan karakteristik.
c. Psycomotor Domain, yaitu perilaku yang berhubungan dengan ketrampilan atau skill yang berkaitan dengan fisik.

Sehubungan dengan aspek-aspek tersebut ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Slameto (2003:54), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah (1) Faktor–faktor internal, (2) Faktor-faktor eksternal.
Faktor-faktor internal terdiri dari faktor jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), dan faktor kelelahan.
Seangkan faktor-faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah), dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor internal siswa antara lain kemampuan yang dimiliki siswa tentang materi yang akan disampaikan, sedangkan faktor eksternal antara lain strategi pembelajaran yang digunakan guru di dalam proses belajar mengajar.
Akuntansi merupakan kegiatan mengumpulkan, mengidentifikasi, mengukur, mencatat dan megikhtisarkan data keuangan. Data pengikhtisaran disebut informasi akuntansi, yang kemudian akan disampaikan kepada pihak pemakai dalam bentuk laporan keuangan. Laporan tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan ekonomi atau bisnis.
Maksum (2004:2) menyatakan bahwa “Akuntansi adalah seni mencatat, mengelompokkan dan meringkaskan dalam suatu cara yang berarti dan dalam istilah uang atas transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian, yang sekurang-kurangnya bersifat keuangan serta membuat interprestasinya”.
Sedangkan menurut Moelyati dkk (2006:2) “Akuntansi adalah proses mengidentifikasikan/mengenali, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut”.
Mata pelajaran akuntansi merupakan mata pelajaran yang memerlukan analisa yang tepat terhadap masalah-masalah yang terjadi di dalamnya. Namun, masih banyak siswa yang menganggap mata pelajaran akuntansi sulit untuk dipahami dan diselesaikan.
Untuk membantu siswa memahami mata pelajaran akuntansi maka kegiatan belajar mengajar di kelas harus berjalan dengan baik. Untuk itu aktivitas siswa dalam pembelajaran harus ditingkatkan yang akan berpengaruh pada hasil belajar akuntansi siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar akuntansi adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar pada mata pelajaran akuntansi yang dapat ditunjukkan melalui angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan.

2.2. Penelitian yang Relevan
Damaris (2010) dalam penelitiannya yang membedakan hasil belajar akuntansi dengan menggunakan strategi pembelajaran index card match dan model konstektual pada siswa kelas XI Akuntansi SMK Negeri 1 Dolok Sanggul mengatakan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran index card match lebih tinggi dengan nilai post test 73,16 dengan SD = 10,46, sedangkan nilai rata-rata postest hasil belajar dengan pengajaran konstektual adalah 65,83 dengan SD = 10,09. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada perbedaan hasil belajar akuntansi dengan menggunakan strategi pembelajaran index card match dan model pembelajaran konstektual kelas XI Akuntansi SMK Negeri 1 Dolok Sanggul.
Nurhayati (2007) dalam penelitiannya tentang pengaruh penggunaan metode belajar aktif tipe index card match terhadap minat belajar dan hasil belajar akuntansi siswa kelas X Ak SMK Negeri 3 Jepara tahun 2006/2007. Setelah dilakukan pembelajaran pada kelompok eksperimen dengan menggunakan metode belajar aktif tipe index card match dan kelompok kontrol dengan menggunakan konvensional yaitu ceramah, dan latihan soal, terlihat jelas bahwa hasil belajar atau post test dari kedua kelompok menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji t yang diperoleh thitung sebesar 2,835 yang berada pada daerah penolakan Ho untuk Alfa = 5% dengan dk = 77. Dengan demikian berarti bahwa pembelajaran aktif tipe index card match dapat mempengaruhi hasil belajar pokok bahasan jurnal penyesuaian perusahaan dagang, dan hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mencapai hasil belajar (89,60) yang lebih baik dari pada kelompok control (83,18).
Pesta (2010) dalam penelitiannya tentang pengaruh strategi pembelajaran index card match terhadap hasil belajar akuntansi yang penelitiannya dari siswa kelas X Akuntansi SMK Negeri 1 Medan, menyimpulkan bahwa ada pengaruh strategi pembelajaran index card match terhadap hasil belajar akuntansi siswa pada pokok bahasan jurnal. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang diperoleh yaitu nilai rata-rata tes hasil belajar siswa kelas eksperimen 69,75 dengan standar deviasi 9,054 dan nilai rata-rata kelas kontrol 59,25 dengan standar deviasi 8,66.

2.3. Kerangka Berpikir
Guru memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Diantaranya sebagai penggerak maupun motivator bagi siswa supaya tetap semangat dalam belajar. Cara guru menyampaikan materi pelajaran menempati posisi yang sangat penting yang diperkirakan turut menentukan tercapainya tujuan pembelajaran.
Guru harus memiliki kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar (PBM). Kemampuan ini akan menjadi bekal guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pengajar. Menjadi tugas guru untuk menerapkan suatu strategi pengajaran yang tepat agar mampu menumbuhkan semangat siswa dalam belajar dan mampu mengatasi proses pembelajaran yang monoton sehingga hasil yang diharapkan benar-benar dapat dicapai secara maksimal.
Strategi belajar aktif tipe index card match atau pencocokan kartu indeks merupakan satu alternative yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan strategi ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
Dalam strategi ini terdapat aktivitas membaca, mengamati, mendengarkan, berbicara, mencatat, memecahkan soal, kecepatan mencari kartu dan aktivitas emosional (gembira, bersemangat). Belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Tanpa adanya aktivitas, proses belajar tidak mungkin terjadi. Aktivitas fisik ialah peserta didik giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain atau bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Dengan penerapan strategi belajar aktif tipe index card match di dalam kelas maka diharapkan aktivitas siswa kembali aktif sehingga proses belajar mengajar yang monoton tidak akan terjadi dalam kelas.
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang diharapkan setelah proses belajar mengajar. Untuk itu, segala sesuatu yang mempengaruhi hasil belajar harus dioptimalkan agar mencapai hasil belajar yang baik. Melalui penerapan strategi pembelajaran ini, siswa dituntut untuk belajar bersama, melatih kecepatan berpikir dalam suasana yang menyenangkan, karena strategi ini bisa divariasikan dalam bentuk permainan kartu. Strategi pembelajaran index card match dapat melatih pola pikir siswa karena dengan model ini siswa dilatih memahami dan mempelajari suatu konsep atau topik melalui pencarian kartu jawaban atau soal, lalu mendiskusikan hasil pencarian pasangan kartu yang sudah dicocokkan oleh siswa bersama-sama dengan guru. Karena pembelajaran ini dilakukan dalam suasana menyenangkan, maka siswa diharapkan lebih bersemangat dan dapat lebih menguasai mata pelajaran akuntansi dengan baik.
Berdasarkan uraian di atas maka dengan menerapkan strategi belajar aktif tipe index card match diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi siswa di SMK Swasta Teladan Medan.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di SMK Swasta Teladan Medan yang beralamat di Jl. Pukat 4 No. 52 Medan.

3.2. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi 2 di SMK Swasta Teladan Medan yang berjumlah 39 orang.

3.3. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah penerapan strategi belajar aktif tipe index card match dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar akuntansi siswa.

3.4. Defenisi Operasional
1. Strategi belajar aktif tipe index card match adalah suatu cara pembelajaran aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran dengan teknik mencari pasangan kartu indeks yang merupakan jawaban atau soal sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana menyenangkan.
2. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan unsur fisik (jasmani) dan psikis (mental) di dalam proses belajar mengajar akuntansi.
3. Hasil belajar akuntansi adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar pada mata pelajaran akuntansi yang dapat ditunjukkan melalui angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan.

3.5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru dalam bentuk soal esai dan observasi aktivitas siswa selama kegiatan belajar berlangsung.
1. Tes hasil belajar
Tes digunakan untuk menjaring kemampuan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pelajaran
2. Observasi
Dalam penelitian ini observasi dilakukan di dalam kelas selama proses penerapan strategi belajar aktif tipe index card match. Kegiatan obeservasi dilakukan untuk merekam aktivitas siswa dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.

3.6. Prosedur Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Dalam penelitian tindakan kelas ini digunakan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan. Informasi dari siklus yang terdahulu sangat menentukan siklus berikutnya. Pada setiap akhir pembelajaran akan dilakukan evaluasi untuk memperoleh data hasil belajar siswa dan perubahan aktivitas siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Arikunto (2008:16) mengatakan bahwa “secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui dalam penelitian tindakan kelas yaitu (1) perencanaan (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi”.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan tindakan (planning) meliputi : peneliti bersama guru bidang studi akuntansi mengadakan pembahasan tentang pelaksanaan tindakan kelas dan membuat skenario pembelajaran sesuai dengan strategi belajar aktif tipe index card match, mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, dan mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi proses belajar dengan stategi pembelajaran index card match.
Pada tahap pelaksanaan tindakan (action), penerapan strategi belajar aktif tipe index card match dilaksanakan. Sebelum model strategi belajar aktif tipe index card match dilaksanakan, maka diberikan tes awal sebelum tindakan untuk melihat kemampuan awal siswa dan setelah pembelajaran diberikan tes untuk melihat tingkat keberhasilan yang dicapai siswa. Pelaksanaan tindakan direncanakan dalam dua siklus dan tiap siklus direncanakan dilaksanakan sesuai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Tabel 3.1
Pelaksanaan tindakan

No. Tindakan Output
Siklus I
1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Pembelajaran tentang tujuan pembelajaran dan motivasi belajar siswa meningkat.
2 Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (sebagian kartu berupa kartu soal dan sebagian lainnya berupa kartu jawaban). Tersedianya kartu soal dan kartu jawaban.
3 Guru mengarahkan setiap siswa untuk mencari satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
4 Guru mengarahkan siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban). Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban), siswa yang mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
5 Guru mengarahkan siswa untuk melemparkan pertanyaan yang ada pada kartu mereka kepada pasangan yang lain, dimana penyelesaiannya langsung dikerjakan di papan tulis. Siswa berlatih menyelesaikan soal-soal materi akuntansi berdasarkan index card match.
6 Mengevaluasi hasil siklus 1 Hasil kemampuan penyelesaian materi akuntansi berdasarkan index card match.
7 Mengadakan refleksi tindakan Tingkat kemampuan menyelesaikan materi akuntansi.
Siklus II
1 Mengidentifikasi masalah baru berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi siklus I. Masalah-masalah baru muncul.
2 Guru menerapkan pembelajaran index card match. Pembelajaran index card match.
3 Mengevaluasi hasil siklus II. Tingkat kemampuan menyelesaikan masalah.
4 Mengadakan refleksi pada siklus II secara menyeluruh. Peningkatan kemampuan siswa dalam pembelajaran index card match.

Pengamatan (observasi) merupakan kegiatan pengumpulan data untuk merekam seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Hal-hal yang diamati adalah aktivitas siswa baik yang partisipatif maupun yang kurang partisipatif selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Pada saat refleksi dilakukan analisa data mengenai proses, masalah, dan hambatan yang dijumpai dan dilanjutkan dengan refleksi terhadap dampak pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan.
Data yang dicatat tiap langkah meliputi data hasil aktivitas belajar dan data hasil pemahaman materi belajar. Data tersebut dianalisis secara berkala setiap langkah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil yang sebenarnya berdasarkan tujuan kegiatan belajar mengajar yang akan dicapai.
Berikut ini digambarkan model penelitian tindakan kelas.
MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


SIKLUS I



SIKLUS II




?
Gambar 3.1 Model penelitian tindakan kelas
Arikunto, dkk (2008:16)

3.7. Teknik Pengumpulan Data
1. Tes
Tes yang digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, yaitu untuk mengukur hasil belajar akuntansi siswa setelah menerapkan strategi belajar aktif tipe index card match. Adapun tes yang diberikan adalah tes pelajaran akuntansi dalam bentuk essay test yang dikutip penulis dari buku teks siswa yang dianggap sudah baku, sehingga validitas dan realibilitas telah teruji. Hasil tes yang diperoleh digunakan untuk melihat keberhasilan belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal.
2. Observasi
Observasi yaitu cara yang digunakan untuk melihat aktivitas belajar siswa pada saat belajar dengan menerapkan strategi belajar aktif tipe index card match. Hal-hal yang diamati adalah aktivitas siswa baik yang partisipatif maupun yang kurang partisipatif selama pembelajaran berlangsung.
Tabel 3.2
Observasi Aktivitas Siswa

No. Nama Siswa Aspek yang dinilai Total Skor Ket
1 2 3 4 5 6 7 8






Keterangan :
A. Keterangan aspek yang dinilai :
1. Visual activities (memperhatikan soal dan jawaban pada kartu)
2. Oral activities (bertanya, mengemukakan pendapat)
3. Listening activities (menghargai pendapat orang lain, mendengarkan arahan)
4. Writing activities (mencatat)
5. Drawing activities (menggambar kolom akun siklus akuntansi)
6. Motor activities (kecepatan mencari pasangan kartu)
7. Mental activities (memberi tanggapan, memecahkan soal, bekerja sama, menaati aturan)
8. Emotional activities (berani, menaruh minat)
B. Kriteria Skor :
1 = tidak pernah melakukan
2 = dilakukan namun jarang
3 = sering dilakukan
4 = sangat sering dilakukan
C. Kriteria Penilaian
28-32 = sangat baik (SB)
23-27 = baik (B)
18-22 = Cukup (C)
13-17 = belum tuntas (BT)
8-12 = tidak tuntas (TT)
3.8. Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan dari pelaksanaan siklus penelitian akan dianalisis dengan dengan menggunakan:
1. Data kuantitatif merupakan nilai hasil belajar siswa yang dianalisis secara kuantitatif yakni dengan mencari nilai rata-rata tes dan berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan di sekolah untuk mengetahui persentase ketuntasan siswa dalam belajar. Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar jika hasil belajar siswa telah mencapai skor 70. Suatu kelas dikatakan tuntas terhadap suatu materi pelajaran jika skor rata-rata kelas telah mencapai 70. Dalam analisis data kuantitatif ini digunakan dua jenis penilaian yaitu penilaian rata-rata dan penilaian untuk ketuntasan belajar klasikal. Suatu kelas dikatakan tuntas terhadap suatu materi pelajaran jika skor rata-rata kelas telah mencapai 70, sedangkan ketuntasan klasikal terpenuhi jika persentase ketuntasan belajar secara klasikal mencapai minimal 80%
Nilai rata-rata diperoleh dengan menggunakan rumus:


(Aqib, 2009:204)
Dengan: x = Nilai rata-rata
∑X = Jumlah semua nilai siswa
∑N = Jumlah seluruh siswa
Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut


(Aqib, 2009:204)
Ket : p = Ketuntasan belajar Klasikal
∑ siswa yang tuntas belajar = jumlah siswa yang memperoleh nilai >70
∑siswa = Jumlah seluruh siswa

2. Data kualitatif merupakan data berupa informasi yang diperoleh dari lembar observasi aktivitas belajar akuntansi siswa, data ini akan dianalisis secara deskriptif kemudian dikategorikan dalam klasifikasi sangat baik, baik, cukup, belum tuntas, tidak tuntas.
Pendeskripsian tiap-tiap data baik kuantitatif maupun kualitatif disesuaikan dengan kegiatan siswa yang disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil analisis data ini akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan usaha perbaikan terhadap kelemahan yang masih ada pada siklus berikutnya.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMK Swasta Teladan Medan yang beralamat di Jl. Pukat IV No. 52 Medan dengan menerapkan strategi pembelajaran index card match (ICM) dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada Standar Kompetensi Menyelesaikan Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa dan Dagang di kelas X Akuntansi 2 Tahun Pelajaran 2009/2010. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Research). Dalam penelitian ini guru akan menerapkan pembelajaran index card match dan pada awal sebelum diterapkan strategi pembelajaran guru memberikan tes awal untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman awal siswa terhadap materi pelajaran. Dan kemudian akan diberikan tes untuk mengetahui perubahan hasil setelah strategi pembelajaran diterapkan. Apabila hasil belajar siswa di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 70, maka akan dilaksanakan siklus II. Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Pada saat diberikan tes di awal kegiatan yaitu tes sebelum penerapan strategi pembelajaran, skor rata-rata siswa adalah 58,08.
2) Hasil belajar setelah diberikan tindakan yaitu dengan penerapan strategi belajar aktif tipe index card match pada siklus I maka diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa menjadi 64,78 atau terjadi peningkatan sekitar 6,7 poin dari tes awal sebelum penerapan. Rata-rata aktivitas siswa selama siklus I mencapai 38,89% dari jumlah siswa.
3) Hasil belajar siklus II diperoleh rata-rata nilai siswa 84,17, terjadi peningkatan dari rata-rata nilai pada siklus I yaitu 19,39 poin. Rata-rata aktivitas siswa selama siklus II mencapai 100%, hal ini berarti mengalami perbaikan dari siklus I.
Tabel 4.1
Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa
Siklus I Siklus II
38,89 % 100 %


Gambar 4.1 Diagram Peningkatan Aktivitas Belajar Akuntansi Siswa
Berdasarkan gambar 4.1 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa data observasi aktivitas siswa meningkat dari 38,89% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II.



Tabel 4. 2
Rata-Rata Hasil Belajar Siswa


TES
Sebelum Penerapan
Siklus I Siklus I Siklus II
58,08 64,78 84,17


Gambar 4.2 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan gambar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa saat tes awal sebelum penerapan rata-rata nilai siswa adalah 58,08 sedangkan rata-rata nilai siswa pada siklus I adalah 64,78 dan mengalami peningkatan, pada siklus II dengan rata-rata nilai siswa adalah 84,17. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari nilai tes tindakan awal ke nilai postes siswa siklus I dan peningkatan nilai postes siswa siklus II sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa melalui penerapan strategi belajar aktif tipe index card match cenderung meningkat.
4.2. Pembahasan
4.2.1. Siklus I
a. Perencanaan (Planning)
Berdasarkan karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana penelitian berangkat dari permasalahan yang timbul dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Maka kegiatan awal peneliti adalah berkonsultasi kepada guru bidang studi untuk mengetahui keadaan siswa dan mengadakan pembahasan tentang pelaksanaan tindakan kelas dan membuat skenario pembelajaran sesuai dengan strategi pembelajaran index card macth.
Peneliti dan guru juga mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas yaitu, mempersiapkan kartu soal maupun kartu jawaban, mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi proses belajar dengan strategi pembelajaran index card macth. Pada tahap ini juga peneliti dan guru menyusun tes awal yang akan diberikan kepada siswa sebelum dilakukannya penerapan strategi pembelajaran index card macth dan menyusun postest I untuk melihat perkembangan tingkat pemahaman siswa terhadap pelajaran dengan menerapkan strategi dan metode pembelajaran.

b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Pada tahap ini, guru terlebih dahulu menjelaskan konsep materi pelajaran yang akan dipelajari, setelah itu guru memberikan tes sebelum pelaksanaan pembelajaran index card match untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi pelajaran tersebut. Kemudian guru menjelaskan tentang strategi belajar aktif tipe index card match.
Pada pertemuan berikutnya dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan strategi belajar aktif tipe index card match sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Setelah kegiatan ini berakhir, maka guru memberikan tes tertulis kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi setelah penerapan strategi belajar aktif tipe index card match. Perolehan hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada lampiran 7.

c. Pengamatan (Observation)
Selama penerapan strategi belajar aktif tipe index card match yang menjadi observer adalah peneliti sendiri. Pengamatan dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung, pengamatan ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui sejauh mana aktivitas belajar siswa dengan menggunakan strategi belajar aktif tipe index card match. Setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa semuanya diamati melalui lembar observasi. Total skor aktivitas belajar siswa tertinggi mencapai skor 28 dengan kriteria penilaian sangat baik, skor ini hanya dicapai oleh 3 orang siswa dan skor terendah adalah 12 dengan kriteria tidak tuntas, skor ini dicapai oleh 5 orang siswa. Total skor hasil observasi aktivitas belajar setiap siswa dapat dilihat pada gambar 4.3 berikut.












Gambar 4.3 Grafik Perolehan Skor Aktivitas Siswa Siklus I

Dari tiap indikator aktivitas belajar dapat dilihat bahwa aktivitas oral (bertanya, mengemukakan pendapat) lebih tinggi dari aktivitas lainnya, tertinggi yang kedua yaitu aktivitas emosional (berani, menaruh minat). Lebih rinci lagi dapat dilihat pada gambar 4.4 berikut.







Gambar 4.4 Diagram Aktivitas Siswa Siklus I

Berdasarkan grafik perolehan skor aktivitas siswa di siklus I (lampiran 5) terdapat 5 orang siswa yang tidak tuntas dan 17 siswa yang belum tuntas. Berdasarkan hasil observasi siklus pertama, peneliti mengelompokkan skala ketuntasan dalam tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3
Perolehan Skor Aktivitas Siswa Siklus I

Skor Perolehan Jumlah Siswa Persentase Kriteria Penilaian
28-32 3 8,33% Sangat Baik
23-27 3 8,33% Baik
18-22 8 22,22% Cukup
13-17 17 47,22% Belum Tuntas
8-12 5 13,89% Tidak Tuntas

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat hanya sekitar 8,33% yang aktivitasnya sangat baik, 8,33% aktivitasnya baik, dan sekitar 22,22% aktivitasnya cukup, 47,22% aktivitasnya belum tuntas dan 13,89% aktivitasnya tidak tuntas. maka dapat dapat disimpulkan aktivitas pada siklus I belum memenuhi kriteria peningkatan yang diharapkan sehingga perlu perbaikan pada siklus selanjutnya.

d. Refleksi (Reflection)
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung dapat dilihat bahwa aktivitas belajr siswa masih kurang, sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan menggunakan stategi belajar aktif tipe index card macth. Masih banyak aktivitas siswa yang masih pasif, masih ada siswa yang belum bisa menyelesaikan tugasnya dengan waktu yang telah ditentukan dan masih banyak siswa yang bermain-main. Hal ini bisa dilihat dari hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa hanya 8,33% yang kritrerianya sangat baik, 8,33% baik, 22,22% cukup, 47,22% belum tuntas dan 13,89% yang tidak tuntas (lampiran 5).
Skor rata-rata hasil belajar pada siklus I mencapai 64,78 mengalami peningkatan dari tes awal sebelum penerapan yang mencapai rata-rata skor 58,08 yaitu dengan peningkatan 6,7 poin, namun rata-rata yang diperoleh siswa pada siklus I ini masih tergolong rendah dan perlu dilanjutkan pada siklus II. Perolehan skor rata-rata siswa siklus I dapat dilihat pada grafik 4.5 berikut.







Gambar 4.5 Grafik Perolehan Hasil Belajar Siswa Siklus I
Pada postes I terdapat 19 orang yang tidak tuntas dan 17 orang yang sudah tuntas, maka jika dibandingkan dengan nilai yang diperoleh sebelum tindakan sudah terjadi peningkatan namun ketuntasan belajar kelas belum mencapai kriteria yang diharapkan, berdasarkan hasil test siklus I, peneliti mengelompokkan skala ketuntasan belajar dalam tabel 4.4 berikut.



Tabel 4.4
Perolehan Hasil Belajar Siswa Siklus I

Range Nilai Tes Tindakan Awal Postest I
Jumlah Siswa
Persentase Kriteria Jumlah Siswa
Persentase Kriteria
70 - 100 10 27,78% T 17 47,22% T
< 70 26 72,22% TT 19 52,78% TT

Skor rata-rata hasil belajar pada siklus I mencapai 4,78 mengalami peningkatan dari tes awal sebelum penerapan yang mencapai rata-rata skor 58,08 yaitu dengan peningkatan 6,7 poin. Pada tes tindakan awal terdapat 10 siswa yang tuntas, 26 siswa tidak tuntas. Sedangkan pada Postes I setelah penerapan terjadi peningkatan dimana terdapat 17 siswa yang tuntas dan 19 yang tidak tuntas.
Untuk memperbaiki kelemahan dan meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I, maka pada pelaksanaan siklus II dapat dibuat perencanaan sebagai berikut :
1. Lebih memotivasi siswa agar lebih aktif lagi dalam proses pembelajaran.
2. Memberikan pengakuan dan penghargaan kepada siswa agar lebih semangat sehingga siswa semakin memahami materi yang diajarkan oleh guru.
Berdasarkan masalah-masalah yang ditemukan selama siklus I dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan-perbaikan dalam merancang perencanaan pada tahap siklus berikutnya.



4.2.2. Siklus II
a. Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini, peneliti bersama guru bidang studi akuntansi mengadakan pembahasan perbaikan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Peneliti dan guru juga mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas yaitu mempersiapkan kartu soal maupun kartu jawaban yang berbeda warna dari kartu yang dipakai pada siklus I, hal ini dilakukan agar siswa tidak merasa bosan dan mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui bagaimana kondisi proses belajar dengan pembelajaran index card match. Pada tahap ini juga guru dan peneliti merancang langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada siklus II, sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan pada siklus I.

b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
Langkah-langkah pembelajaran pada siklus II ini sama seperti pada siklus I namun guru lebih memotivasi siswa agar lebih proaktif dan bisa menyelesaikan pencarian kartu sesuai dengan waktu yang elah disepakati dan setiap pasangan dapat lebih saling terbuka untuk mendiskusikan kartu hasil temuan temannya.
Berdasarkan analisis dari siklus I guru memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I pada siklus II. Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan dipelajari, mengulang materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. Kemudian menjelaskan kaitannya dengan materi yang dipelajarinya. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan rencana tindakan yang telah dibuat pada RPP yaitu dengan menggunakan strategi belajar aktif tipe index card match.
Setelah kegiatan ini berakhir, maka guru memberikan tes tertulis kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi setelah penerapan strategi belajar aktif tipe index card match untuk melihat perkembangan dan ketuntasan belajar siswa setelah diberikan tindakan tahap kedua.

c. Pengamatan (Observation)
Seperti pada siklus I, pada siklus ini pengamatan proses belajar mengajar juga dilakukan oleh observer. Guru menerapkan strategi belajar aktif tipe index card match disertai dengan peneliti sebagai observer.
Setelah dilakukan refleksi pada siklus I dan guru memaparkan pada siswa diawal siklus II kelemahan yang ditemukan pada siklus I maka terjadi perubahan yang cukup signifikan karena siswa lebih paham makna dari setiap kegiatan dan instruksi yang diberikan guru selama proses belajar mengajar berlangsung.
Total skor aktivitas siswa tertinggi mencapai skor 31 dengan kriteria penilaian sangat baik, skor ini dicapai tiga orang siswa dan skor terendah mencapai skor 18 dengan kriteria penilaian cukup, skor ini dicapai oleh satu orang siswa. Total skor hasil observasi aktivitas belajar setiap siswa pada siklus II dapat dilihat pada gambar 4.6 berikut.

Gambar 4.6 Grafik Perolehan Skor Aktivitas Siswa Siklus II

Dari penilaian tiap aktivitas siswa pada siklus II dapat dilihat bahwa aktivitas emisional (berani, menaruh minat) lebih tinggi dari aktivitas lainnya yaitu 122 poin. Lebih rinci lagi dapat dilihat pada gambar 4. 7 berikut :







Gambar 4.7 Diagram Aktivitas Belajar Siswa Siklus II
Berdasarkan grafik perolehan skor aktivitas siswa di Siklus II (lampiran 6), terdapat 12 siswa yang memiliki aktivitasnya sangat baik, 14 siswa aktivitasnya baik dan hanya 10 siswa yang aktivitasnya masih cukup. Maka terjadi peningkatan dari aktivitas selama siklus I. Berdasarkan hasil observasi siklus II, peneliti mengelompokkan skala peningkatan ketuntasan aktivitas siswa dalam tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5
Persentase Aktivitas Belajar Siklus II

Skor Perolehan Jumlah Siswa Persentase Kriteria Penilaian
28-32 12 33,33% Sangat Baik
23-27 14 38,89% Baik
18-22 10 27,78% Cukup
13-17 - Belum Tuntas
8-12 - Tidak Tuntas

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat sekitar 33,33% yang aktivitasnya sangat baik, 38,89% aktivitasnya baik, dan sekitar 27,78% aktivitasnya cukup, maka dapat disimpulkan aktivitas pada siklus II telah mengalami perbaikan dan peningkatan dari siklus I.

d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, dapat dilihat bahwa aktivitas belajar siswa sudah baik dan mengalami peningkatan, hampir semua siswa sudah terbiasa dengan kondisi belajar dengan menggunakan strategi belajar aktif tipe index card match. Selama siklus II siswa yang awalnya takut untuk mengeluarkan pendapat sudah mulai memiliki keberanian dan aktif dalam pembelaran. Walaupun dibeberapa aktivitas masih ada siswa yang pasif namun secara keseluruhan aktivitas siswa sudah mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari hasil observasi terhadap aktivitas belajar siswa sudah mencapai 33,33% yang kriterianya sangat baik, 38,89% baik, dan sekitar 27,78% yang kriterianya masih cukup, maka bisa terlihat aktivitas siswa sudah mengalami peningkatan yakni 100% dari jumlah siswa.
Skor rata-rata hasil belajar pada siklus II mencapai 84,17 mengalami peningkatan dari rata-rata hasil belajar pada siklus I yang mencapai rata-rata skor 64,78 yaitu dengan peningkatan 19,39 poin. Perolehan skor rata-rata siswa siklus II dapat dilihat pada grafik 4.8 berikut.







Gambar 4.8 Grafik Perolehan Hasil Belajar Siswa Siklus II

Pada postes II terdapat 4 orang yang tidak tuntas dan 32 orang yang sudah tuntas, maka jika dibandingkan dengan nilai yang diperoleh pada postes I maka terjadi peningkatan hasil belajar siswa dan ketuntasan belajar kelas sudah mencapai kriteria yang diharapkan. Berdasarkan hasil tes pada siklus II, peneliti mengelompokkan skala ketuntasan belajar dalam tabel IV.6 berikut.
Tabel IV.6
Perolehan Hasil Belajar Siswa Siklus II

Range Nilai Postes I (Siklus I) Postes II (Siklus II)
Jumlah Siswa
Persentase Kriteria Jumlah Siswa
Persentase Kriteria
70 - 100 17 47,22% T 32 88,89% T
< 70 19 52,78% TT 4 11,11% TT

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada siklus II, ada 32 siswa yang telah tuntas atau 88,89% dari jumlah siswa dengan nilai rata-rata 84,17 (lampiran 10). Hal ini berarti kriteria ketuntasan klasikal yakni 70 sudah tercapai. Maka peneliti mengelompokkan skala ketuntatasan belajar pada siklus I dan siklus II dalam tabel 4.9 berikut.








Gambar 4.9 Grafik Peningkatan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
Dari grafik diatas dapat kita lihat peningkatan yang cukup signifikan dari siklus I ke siklus II. Hasil penelitian terhadap observasi aktivitas dan hasil belajar selama kegiatan pembelajaran dengan penerapan strategi belajar aktif tipe index card match berlangsung meningkat dari siklus I ke siklus II. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah kepada pembelajaran aktif secara lebih baik. Siswa telah mampu untuk membangun kerjasama dengan temannya, lebih memperhatikan soal dan jawaban di kartu, mampu menghargai pendapat dan mendengar arahan, serta siswa juga mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan.






















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.1. Kesimpulan
Dari hasil analisis data dan pembahasan penelitian maka dapat disimpulkan, yaitu :
1. Aktivitas belajar siswa selama penerapan strategi belajar aktif index card match pada siklus I kurang mencapai standar minimal yang diharapkan, yaitu hanya sekitar 38,89%, sehingga perlu dilakukan siklus lanjutan (siklus II). Dan di siklus II siswa lebih aktif aktif terhadap materi pembelajaran. Ini dibuktikan dengan bertambahnya siswa yang masuk kriteria cukup (dari 8 siswa meningkat menjadi 10 siswa), bertambahnya siswa yang masuk kriteria baik (dari 3 siswa meningkat menjadi 14 siswa), serta bertambahnya siswa yang masuk kriteria sangat baik (dari 3 siswa menjadi 12 siswa). Ini berarti mencapai hasil yang diharapkan yaitu ketuntasan aktivitas siswa dalam belajar pada siklus II telah mencapai 100%(36 siswa). Maka, strategi belajar aktif tipe index card match dapat meningkatkan aktivitas belajar akuntansi khususnya pada materi pelajaran jurnal penutup dan jurnal pembalik di SMK Swasta Teladan Medan.
2. Hasil belajar siswa setelah penerapan strategi belajar aktif tipe index card match pada materi pelajaran jurnal penutup dan jurnal pembalik mengalami peningkatan, terlihat dari rata-rata nilai sebelum dilakukan penerapan 58,08. Dan setelah diberikan penerapan maka hasil belajar pada siklus I meningkat yaitu dengan rata-rata nilai 64,17 maka terjadi peningkatan sekitar 6,7 poin dan pada siklus II mencapai 84,17 yakni mengalami peningkatan sekitar 19,39 poin dari siklus I. Maka, strategi belajar akitf tipe index card match dapat meningkatkan hasil belajar akuntansi khususnya pada materi pelajaran jurnal penutup dan jurnal pembalik di SMK Swasta Teladan Medan.
5.1.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Bagi guru khususnya guru bidang studi akuntansi sebaiknya menggunakan strategi belajar aktif tipe index card match sebagai salah satu alternative dalam mata pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam mata pelajaran akuntansi.
2. Pihak sekolah harus menambah referensi materi yang akan diajarkan sehingga perhatian siswa lebih terfokus pada materi pelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Untuk penelitian lebih lanjut, peneliti dapat menggunakan judul yang sama namun untuk waktu yang lebih lama dengan sumber yang lebih luas, agar dapat dijadikan suatu studi perbandingan bagi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pada bidang studi akuntansi.


DAFTAR PUSTAKA

Aji, Wahyu, dkk. 2007. Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

Aqib, Zainal, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya.

Arikunto, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Bloom. Dalam Sardiman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Damaris. 2010. Perbedaan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran Index Card Match dan Model Pembelajaran Konstektual Pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Dolok Sanggul. Universitas Negeri Medan.

Diedrich. Dalam Sardiman, A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Djamarah, Syaiful Bahari dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, O. 2009. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Handayani. 2009. Stategi Belajar Aktif dengan ICM. http://pelawiselatan.blogspot.com/2009/04/stategi-belajar-aktif.html. Diakses tanggal 07 Januari 2009

Kemp. dalam Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Kurniawati, Euis. 2009. Komparasi Strategi Pembalajaran. http/myaghnee. blogspot.com/2009/02/18. Diakses pada tanggal 17 September 2009.

Lawson. dalam Sanjaya , Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Maksum, Azhar. 2004. Dasar-Dasar Akuntansi. Medan:Bartong Jaya.

McKeachie. dalam Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Stategies to Teach Any Subject. Terjemahan Muttaqien, Raisul. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia.

Moelyati, dkk.2006.Siklus Akuntansi: Untuk Tingkat 1 SMK. Jakarta: Yudhistira.

Nurhayati. 2007. Pengaruh Metode Belajar Aktif Tipe Index Card Match (ICM) Terhadap Minat Belajar dan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMK Negeri 3 Jepara Tahun 2006/2007. http/multiply.com/journal/item/7-70k-tembolok-halaman sejenis. Diakses tanggal 7 Mei 2009.

Pesta. 2010. Pengaruh Stategi Pembelajaran Index Card Match Terhadap Hasil Belajar Akuntansi Siswa di SMK Negeri 1 Medan. Universitas Negeri Medan.

Pollio. dalam Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Stategies to Teach Any Subject. Terjemahan Muttaqien, Raisul. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia.

Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sardiman, A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Stategies to Teach Any Subject. Terjemahan Muttaqien, Raisul. 2006. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sucipto, Toto, dkk. 2009. Akuntansi 1 untuk SMK Kelas X. Jakarta: Yudhistira.

Sudjana. dalam Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Yasa. 2008. Prestasi Belajar. http://ipoteswordpress.com/2009/05/24. Diakses tanggal 15 Februari 2009.

Zaini, Hisyam, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Madani.